Pendapat tersebut sudah seharusnya dokoreksi. Meski Indonesia selalu mendapat sinar matahari yang cukup, tapi ternyata masih banyak orang Indonesia termasuk ANAK-ANAK yang tidak tercukupi (insufisiensi) , bahkan kekurangan (defisiensi) vit.D
Menurut penelitian , ada 75,8% anak SD di Jakarta mengalami insufiensi dan 15% mengalami defisiensi vit.D. Anak yang terbukti cukup vit.D cuma 9,2%.
Aman dkk melakukan penelitian tersebut terhadap 120 siswa dari 2 SD Jakarta ( 1 sekolah elite, 1 lagi sekolah biasa ). Hasilnya, ternyata mereka sama-sama mengalami insufiensi dan defisiensi. Dari sisi gender, anak perempuanlah yang lebih banyak mengalami kekurangan vit.D.
Vit.D bisa diproduksi tubuh saat terpapar sinar matahari. Vit.D juga bisa di dapat dari makanan hewani, seperti ikan, telur, dan susu beserta produk olahannya, misalnya keju. Vit.D sangat berperan membantu metabolisme kalsium dan mineral dalam tulang. Jika tubuh kekurangan vit. ini , sejumlah masalah kesehatan akan muncul.
Selain menyebabkan oesteporosis, kekurangan vit.D juga bisa mendongkrak risiko diabetes, kanker, serta anjloknya kekebalan tubuh.
"Saat olahraga dan melakukan lompatan, anak tersebut mengalami patah tulang kaki, setelah di cek , ternyata tulangnya keropos."
Tahun depan Aman dkk akan memperluas penelitian ke sejumlah prov. Jika memang hasinya menunjukkan kekurangan vit.D terjadi di banyak tempat, Aman berharap pemerintah memberikan suplemen vit.D. Selain itu , perlu dipikirkan adanya pengayaan vit.D pada makanan mereka.
Sembari menunggu aksi itu , cara sederhana untuk menggenjot kadar vit.D di dalam tubuh, kata Aman, "Berjemur sinar matahari, terutama pada pagi hari sebelum pukul 10." Sempatkan, setidaknya tiga kali 30-60 menit saban pekan.
sumber : TEMPO edisi 28 Nov - 4 Des 2011